Sabtu, 12 Juni 2021

Peran Keluarga Dalam Konsep Perkembangan Remaja FTIK UNISNU Jepara

 Peran Keluarga Dalam Konsep Perkembangan Remaja

Ahmad Bambang Khoirul Afif
191310004150


A.    Pendahuluan
Keluarga adalah suatu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan, mulai dari anak bergantung kepada ibu, ayah kakak, abang maupun sebaliknya kesemuanya saling membutuhkan. Yusuf menyatakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, sehingga kedudukan keluarga dalam perkembangan psikologis anak sangatlah dominan(Andriyani, J. (2016). Korelasi peran keluarga terhadap penyesuaian diri remaja. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 22(2).)
bagaimana remaja membangun hubungan dan bagaimana hubungan mempengaruhi perkembangan kematangan social pengaruh social budaya dan historis terhadap keluarga, dan sifat dasar dari daur hidup keluarga.Para ahli prkembangan menyelidik sifat dasar dari sosialisasi timbalebalilq mereka terkesan dengan pentingnya kesesuaian dalam hubungan orangtua-anak dan orang tua-remaja. Sebagai suatu system sosial, keluarga sebagai subsistem menggambarkan hubungan antara generasi, jenis kelamin, dan peran. Masing-masing anggota keluarga adalah peserta di dalam beberapa subsystem seperti seperi dyadicyang terdiri atas dua orang dan polyadicyang terdiri atas lebih dari dua orang(minuchin, 2002).
     
B.    Pembahasan

 Perkembangan remaja meliputi perkembangan fisik, sosial, emosi, moral dan kepribadian (Sarwono, 2011).
a.Perkembangan fisik remaja.
Seperti pada semua usia, dalam perubahan fisik juga terdapat perbedaan individual. Perbedaan seks sangat jelas. Meskipun anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lambat daripada anak perempuan. Hal ini menyebabkan pada saat matang anak laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Setelah masa puber, kekuatan anak laki-laki melebihi kekuatan anak perempuan. Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cenderung mempunyai bahu yang lebih lebar dari pada anak yang matang lebih awal (Sarwono, 2011).
b.Perkembangansosial.
Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Sarwono, 2011).Pencapaiantujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin (Sarwono, 2011).

c.Perkembangan emosi.
Masaremaja ini biasa juga dinyatakan sebagai periode “badai dan tekanan”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya perubahan emosi ini dikarenakan adanya tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru(Monks & Haditomo, 2004).
d.Perkembangan moral.
Pada perkembangan moral ini remaja telah dapat mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak (Sarwono, 2011). Pada tahap ini remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku khusus dimasa kanak-kanak dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya (Sarwono, 2011).
e.Perkembangan kepribadian
Pada masa remaja, anak laki-laki dan anak perempuan sudah menyadari sifat-sifat yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat teman-teman mereka. Mereka juga sadar akan peran kepribadian dalam hubungan-hubungan sosial dan oleh karenanya terdorong untuk memperbaiki kepribadian mereka (Sarwono, 2011).

banyak para orang tua yang melihatmereka berubah dari penurut menjadi tidak penurut dan melawan.Banyak ornag tua bermasalah dengan anak remaja mereka karena mereka mengharapkan anaknya menjadi dewsa dalam waktu singkat,padahal remaja tidak menjadi dewasa dalam waktu singkat. Orang tua yang tahu bahwa remaja membutuhkan waktu yang lama untuk menjadidewasa biasanya berhadapan dengan remaja yang lebih cakap dan tenang dibandingkan dengan orang tua yang menginginkan penyesuaian yang cepat terhadap standar orang tua.Orang tua dapat memaknai peran penting sebagai manajer dari anak remajanya, sebagai monitor hubungan sosial remaja dan sebagai penilai dalam pengatur sosial (Parker & Buriel, 1998,2006).
Tugas perkembangan yang penting dalam masa remaja adalah untuk mengembangkan kemampuan dalam membuat keputusan yang cakap untuk meningkatkan sikap mandiri (Mortimer & Laron, 2OOZ). Untuk membantu remaja meraih seluruh potensi mereka, peran orang tua yangpenting adalah untuk menjadi manajer yang efektif, seseorang yang mencari informasi membuat konta( membantu menyusun pilihan dan menyediakan bimbingan (Youniss & Ruth, 2002). Orang tua yang memenuhi peran manajer, membantu remaja untuk menghindari kesulitan dan memberikan mereka jalan untuk melalui pilihan dan keputusan yang sangat banyak yang mereka hadapi (Furstenberg & others, 19999).Dari bayi hingga remaja, ibu rebih disukai dari pada ayah untuk peran manajerial dalam pengasuhan.
Pandangan Diana Baumrind (L97L,1990, 1991a, 1991b) yang menyakini bahwa orang tua seharusnya tidak bersifat menghukum maupun menjauhi remaja, tapi sebaliknya membuat peraturan dan manyayangi mereka. Terdapat empat jenis cara menjadi orang tua yang berhubungan dengan aspek-aspekyang berbeda-beda dalam perilaku sosial remaja : autoria autoritatif,negleciful (lalai) dan indulgent (sangat sabar).




1. Pola Asuh AutoritarianAdalah pengasuhan yang membatasi dan bersifat menghukum yangmendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orang tua menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang autoritarian membuat batasan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit' komunikasi verbal. Remaja yang orang tuanya authoritarian sering kalimerasa cemas akan perbandingan sosial, tidak mampu memulai suatu kegiatan dan memiliki kemampuan komunikasi yang rendah.
2. Pola Asuh Autoritatif Pola asuh ini mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan pengendalian tindakan-tindakan mereka. Komunikasi verbal timbal balik dapat berlangsung dengan bebas dan orang tua bersifat sangat sosial remaja yang kompeten. Remaja yang orang tuanya bersifat autoritatif berkaitan akan sadar diri dan bertanggung jawab secara sosial.
3. Pola Asuh Neglectful (lalai) Adalah pola asuh diamana orang tua sangat tidak ikut campur dalam yangtidak cakap khususnya kurangnya pengendalian diri. Remaja sangat membutuhkan perhatian orang tua mereka.; remaja yang orang tuanya lalai mendapat kesan bahwa aspek lain dari kehidupan orang tuanya lebih penting dari pada dia. Remaja yang orang tuanya lalai biasanya tidak cakap; mereka menunjukkan pengendalian diri yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan degan baik yang berhubungan dekat dengan orangtua yang lalai adalah kurangnya monitor dari orang tua. Dalam studi baru-baru ini, monitor dari orang tua terhadap remaja terkait dengan niali-nilai yang Iebih tinggi, aktivitas seksual yang lebih rendah, dan rendahnyadepresi pada remaja.
4, Pola Asuh Indulgent Adalah pola asuh dimana orang tua sangat terlibat dengan remaja tapi sedikit sekali menuntut atau mengendalikan mereka. Orang tua yang indulgent mengizinkan remaja melakukan apa yang mereka inginkan dan akibatnya si remaja tidak pernah belajar mengendalikan perilaku mereka dan selalu berhadap mendapatkan semua keinginannya. Beberapa orangtua memperlakukan anaknya demikian, karena percaya bahwa keterlibatan yang hangat dengan sedikit batasan akan menghasilkan remaja yang kreatif dan percaya diri. Pola asuh indulgent berkaitan dengan ketidakcakapan social remaja, terutama kurangnya pengendalian diri.

Secara umum ditemukan bahwa pola asuh autoritatif berhubungan dengan aspek positif berkembang (Steinberg & Silk, 2002). Alasan-alasan pola asuhan utoritatif menjadi pola asuh yang paling efektif adalah :. Orang tua autoritatif mendirikan keseimbangan tetap antara control dan otonomi, memberikan anak dan remaja kesempatan untuk mengembangkankebebasan sekaligus menyediakan standar, batas, dan bimbingan dengan diperlukan anak (Reuter & Conger, 1995). Orang tua autoritatif lebih mengajak anak dalam komunikasi timbal balik dan mengizinkan anak untuk mengekspresikan pandangan mereka(Kuczynski & Loilis, 2002).  diskusi keluarga ini lebih membantu anak untuk menjadi orang yang kompeten secara sosial.
 Kehangatan dan keterlibatan orang tua yang disediakan oleh orang tua autoritatif membuat anak lebih menerima pengaruh orang tua (Sim, 2000)Banyak orang tua menggunakan kombinasi teknik-teknik dari pada satu tekniksaja, walaupun mungkin  telah dominan pada satu teknik. Walaupun dianjurkan penggunaan yang konsisten, orang tua yang

bijak dapat merasakan pentingnya menjadi lebih permisisif pada suatu situasi, lebih autoritatif pada situasi lain dan lebih autoritatif pada situasi lainnya.
Peran lbuApa yang kamu pikirkan ketika kamu mendengar kata ibu ? Jika kamu seperti kebanyakan orang maka kamu akan mengasosialisakan ibu dengan"positif", sepeti hangat, tidak mementingkan diri sendiri, dan toleran (Martin,1993). Dan ketika kebanyakan wanita mengharapkan menjadi seorang ibu akan bahagia, realitas menunjukkan bahwa ibu kurang mendapat penghargaan didalam masyarakat kita. Ketika ibu terjebak dalam masalah uang, kekuasaan,dan penghargaan ibu jarang menerima apresiasi yang mereka janjikan. Ketika anak remaja tidak sukses atau membuat masalah, masyarakat kita cenderung untuk mengatribusikan masalah-masalah itu kepada ibunya.Salah satu hal yang penting untuk dipelajari dari psikologi adalah tingkahlaku itu ditentukan oleh banyak hal, Begitu juga dengan perkembangan    remaja,ketika perkembangan itu tidak berjalan baik, ibu bukanlah sebab satu-satunya dari masalah itu meskipun masyarakat kita cenderung stereotype terhadapmereka.Realitas dari peran ibu saat ini adalah ketika sang ayah mencoba menaikkan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya, namun tanggung jawab utama anak-anak dan remaja tetap jatuh di dahu ibu (Barnard & Solchany, 20A2;Brooks & Bornstein, 1996).
Dalam satu kasus remaja berusia 9-12 tahun berkatabahwa ibu mereka lebih berpengaruh dalam pengasuhan di banding dengan ayah mereka (Sputa 7 Paulson, 1995).Peran ibu membawa keuntungan sekaligus kekurangan. Meskipun sebagian besar wanita tidak mau memilih untuk menjadi ibu sepanjang hidupnya, tetapi sebagian besar ibu mengatakan bahwa menjadi ibu merupakan salah satu pengalaman yang paling berarti dalam hidupnya.
Peran ayah mempunyai perubahan besar (Day 7 lamb, 2004; Lamb, t997;Parke, 2002, 2OO4; parker & others, 2002). Selama periode kolinial Amerika,ayah adalah pemegang tanggung jawab untuk mengajarkan moral. Ayah memberi arahan dan nilai, terutama tentang agama. Ketika revolusi Industri,peran ayah berubah. Ayah bertambah tanggungnya sebagat breadwinner, Wranyang diteuskan malalui depresi yang berat. Ketika perang dunia II berakhir,peran lain ayah diadakan Iagi, yaitu mengenai model gender. Walaupun menjadi biadwinner, dan pengarah moral terus menjadi peran ayah yang penting, atensi berpindah kepada perannya sebagai laki-laki terutama untuk para anak laki-laki.Di tahun 1970, minat ayah sebagai active, nurtunnt, dan peduli menjadi semakin penting. Selain bertanggung jawab terhadap disiplin dan control terhadap anak dan menjadi basis ekonomi keluarga, peran ayah sekarang menjadi evaluasi dalam konteks aktif , aktifitas ayah yang tinggi saat ini apakah berpengaruh terhadap anak-anakdan remajanya ? Suatu studi longitudinal pada remaja dari kelas 5 samapai kelas12, menemukan bahwa ayah hanya menghabiskan waktu yang sangat sedikit untuk anak dan remaja mereka (Larson & others, 1995). Dalam sebuah penelitian melahirkan rumusan bahwa ayah menghabiskan 1/3 sampai 3/+ waktu yang dia punya dengan anak dan remaja mereka, seperti yang ibu lakukan(Biller, 1993; Pleck, 1997 Yeung & others, 1996). Dalam sebuah penelitian ayah dari 1700 anak yang berusia sampai l2 tahun waktu yang mereka habiskan dengan anak mereka meningkat, dibandingkan dengan yang mereka lakukan di awal tahun 1990-an, tetapi masih kurang dengan apa yang ibu lakukan (Yeung &others, 1996). Meskipun beberapa ayah berkomitmen sebagai orang tua, namun yang Iainnya adalah orang asing bagi remaja mereka, meskipun mereka tinggal di rumah yang sama (Burton & Synder, t997; Day & AcocK 2004).Secara keseluruhan, meskipun peran ayah di U.s telah meningkat, tetapi waktu yang mereka habiskan untuk anak

mereka, masih lebih rendah dibandingkan ibu (Parke & Buriel, 2006). Perbedaan gender dalam mengasuh tidak hanya pada orang tua kulit putih namun juga untuk Iatin dan Afrika-Amerika. (yeung & others, 2001). Dan beberapa peneritian terah menemukan bahwa ayah didalam banyak Negara seperti Austraria, Inggris, perancis danJepang juga menghabiskan sedikit waktu untuk anak mereka di bandingkanibunya (Zuzanek, 2000).
 

C.    Simpulan
            Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk memperoleh otonomi(kebesan), baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya dengan orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk saling berinteraksi dengan dunianya yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nikai dan ide. Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dan pelajaran yang berasal dari orang tua. Aklbatnya remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan ide-ide mereka  sendiri
keluarga sebagai subsistem menggambarkan hubungan antara generasi, jenis kelamin, dan peran. Masing-masing anggota keluarga adalah peserta di dalam beberapa subsystem seperti seperi dyadicyang terdiri atas dua orang dan polyadicyang terdiri atas lebih dari dua  orang (minuchin, 2002). Bapak dan remaja merupakan subsistem dyadic atau hubungan antara ibu dan bapak; sedangkan ibu, bapak dan remaja merupakan subsistem polyadic atau hubungan antara ibu dan anak Iainnya. Hubungan perkawinan, orang tua, dan perilaku remaja dapat mempengaruhi satu sama tainbaik secara langsung maupun tidak tangsung.Perkembangan remaja Perkembangan remaja meliputi perkembangan fisik, sosial, emosi, moral dan kepribadian
Terdapat empat jenis cara menjadi orang tua yang berhubungan dengan aspek-aspek yang berbeda-beda dalam perilaku sosial remaja : autorian, autoritatif, negleciful (lalai) dan indulgent (sangat sabar).




 

Daftar Pustaka

Andriyani, J. (2016). Korelasi peran keluarga terhadap penyesuaian diri remaja. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 22(2).

Https: //www. Ibh-apik. or.id adopsi. htm
http:/www. Worldlii.orglidllegisluul2012luu-2002-O23.htlm, Kamis 15 Maret2007
LESTARI, E. G., Humaedi, S., SANTOSO, M. B., & Hasanah, D. (2017). Peran keluarga dalam menanggulangi kenakalan remaja. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2).

Mar'at Samsunuwijati, Prof.,Dr.,Hj, S. Psi, 2005. Psikologi PerkembanganBandung : PT Remaja Rosdakarya
Rejeki, S. A. (2008). Hubungan antara komunikasi interpersonal dalam keluarga dengan pemahaman moral pada remaja. Jurnal Psikologi.

Santrcck, John W, 2007, Adolescence Eleventh Edition. McGraw-Hill International

Latest
Next Post

Nama saya annisa, saya dari jepara, saya mahasiswi di Unisnu jeparq

0 komentar: