Sabtu, 12 Juni 2021

Hubungan Lingkungan Sekitar ( Keluarga) dan Perkembangan Psikosisal Peserta Didik FTIK UNISNU Jepara

 Hubungan Lingkungan Sekitar ( Keluarga) dan Perkembangan Psikosisal Peserta Didik

Annisa Fadzliyah
191310004164

A.    PENDAHULUAN

         Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang memiliki peranan penting dan menjadi dasa     bagi perkembangan psikososial anak dalam konteks sosial yang lebih luas. Untuk itu, dalam memahami perkembangan psikososial peserta didik, perlu dipelajari bagaimana hubungan anak dengan keluarga.
        Karakteristik Hubungan Anak Usia Sekolah dengan Keluarga Masa usia sekolah dipandang sebagai masa untuk pertama kalinya anak memulai kehidupan sosial mereka yang sesungguhnya. Bersamaan dengan masuknya anak ke sekolah dasar, maka terjadilah perubahan hubungan anak dengan orangtua. Perubahan tersebut di antaranya disebabkan adanya peningkatan penggunaan waktu yang dilewati anak- anak bersama teman-teman sebayanya.
        Sekalipun tidak lagi menjadi subjek tunggal dalam pergaulan anak, orangtua tetap menjadi bagian penting dalam proses ini, karena mereka yang menjadi figur sentra dalam kehidupan anak. Untuk itu, orangtua harus menuntun anak untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas. Teladan perilaku yang baik (seperti disiplin dan bermoral) dapat mempertajam pemahaman anak terhadap tuntutan masyarakat yang dihadapinya kelak. Melalui proses ini, anak akan semakin memahami kebutuhan dan perasaannya, sekaligus kebutuhan dan perasaan orang lain.
           Hubungan orangtua dan anak akan berkembang dengan baik apabila kedua pihak saling memupuk keterbukaan. Berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting. Perkembangan yang dialami anak sama sekali bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan- kebiasaan di masa kecilnya. Hal ini justru akan membantu orangtua dalam menjaga terbukanya jalur komunikasi.
    
            Hakikat Perkembangan, Istilah "perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya:    pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.
            Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.”
            Menurut F.J. Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.” Perkembangan juga dapat diartikan sebagai “proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.”
            Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi di atas adalah bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.
            Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur- angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap. Berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian. Ini menjunjukkan bahwa sejak masa konsepsi sampai menionggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan.

B.    ISI / PEMBAHASAN


            Menurut teori Erik Erikson, anak adalah mahkluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif. Yang slalu berupaya untuk mengontorol lingkungannya dan anak bukanlah mahluk yang pasif yang mau begitu saja di bentuk oleh kedua orang tuanya. (Erikson, 1963,1972 dalam Shaffer, 1989 :48). Jadi, teori perkembangan ini psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi.
Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Ialah perasaan sadar yang kita kembangan melalui interaksi sosial. Menurutnya, perkembangan ego slalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori erikson disebutu sebagai teori perkembangan psikososial.
            Erikson membagi seluruh rentang kehidupan manusia dalam delapan tahap. Menurutnya, semua manusia paling tidak akan menghadapi delapan macam krisis atau konflik selama hidup mereka. Tetapi dalam pembahasan ini lebih menekankan 2 tahap saja yaitu, tahap 4 dan 5 karena seorang anak sudah mulai belajar mengenal tugas tugas perkembangannya selama di tahap itu. Mereka sudah mulai percaya diri bahwa ia akan berhasil. Lalu, anak akan mulai mempertanyakan “jati diri”nya. Anak akan mecari identitas dirinya. Setelah sudah menjalankan tugas-tugas perkembangan anak pada saat usia sebelumnya. 


a.    Tahap 4 (rasa berhasil vs rendah diri)


            Tahap ini merupakan usia 6-12 tahun (school age) ditingkat ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya. Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil melalui tuntutan tersebut. Anak dapat mengembangkan sikap rajin, jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (infieoritas), anak dapat mengembangkan sikap rendah diri. Sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangat penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia ini usaha yang sangat baik pada tahap ini adalah dengan mengembangkan kedua karakteristik yang ada. Dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.

b.    Tahap 5 (identitas dan penolakan vs terburainya identitas)


            Tahap ini merupakan tahap adolense (remaja), dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18 tahun/anak. Di dalam tahap ini lingkup lingkungan semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung dalam tahap ini. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Namun sebaliknya, jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut. Karena pada tahap ini, terjadi “puncak pencarian” identitas diri. Pertanyaan “siapa saya” yang timbul dalam diri remaja, sebetulnya berkaitan dengan peran yang di harapkan masyarakat terhadap remaja.
Keberhasilan remaja dalam memperoleh peran, dan keberhasilannya dalam melaksanakan tugas akan memberikan identitas tertentu bagi dirinya. Namun ada hal yang akan mengganggu perkembangan ini, jika ia tidak bisa melakukan pengembangan identitas diri ini, yaitu masalah Krisis Identitas adalah suatu keadaan dimana identitas dari individu/seseorang yang tidak jelas. Sasaran yang terjadi adalah pada anak remaja umur 14-15 tahun, dimana pada masa ini dipengaruhi oleh faktor hormonal yang biasa disebut masa gejolak/badai topan. Masa-masa ini masa anak ingin terlepas bebas dan masih ketergantungan. Apabila masa ini tidak diperhatikan maka anak akan melarikan diri ke peer group (teman sebaya). Pengaruh teman sebaya biasanya kenakalan remaja. Pada masa ini yang perlu ialah pengawasan atau nasehat orang tua. Karena itu, krisis identitas hanya dapat diatasi bila si remaja berhasil memperoleh peran yang sesuai dengan tuntutan dirinya dan selaras dengan harapan masyarakat.
            Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart dan Sundeen, 1991). Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya (Keliat, 1992). Salah satu dasar persepsi seseorang terhadap kecukupan peran yang diterimanya adalah ego yang menyertai peran, berkembang sesuai dengan harga diri. Harga diri yang tinggi adalah hasil dari pemenuhan kebutuhan peran dan sejalan dengan ideal diri seseorang (Stuart dan Laraia, 2005).

    Solusi


        Menurut saya umur 6-18 tahun itu merupakan masa dimana anak mulai tumbuh dan berkembang dan di masa itu juga anak beranjak dewasa/remaja, jadi peran orang tua sangat penting pada masa itu,  orang tua membuat anak-anaknya peka terhadap kebutuhan orang lain sehingga meningkatkan kemampuannya untuk berempati (Nancy Eisenberg, 1982), kemudian didikan  orang tua (keluarga) membentuk tingkah laku atau tindakan anak, tidak hanya itu peran guru juga sangat penting karena guru memberikan bimbingan bantuan terhadap peserta didik untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga, serta masyarakat.





C.    SIMPULAN


    Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Jika Semua keluarga/orangtua memfokuskan perannya kepada perkembangan anak dapat memberikan dampak/keyakinan yang kuat dan besar terhadap perkembangan perilaku, sikap dan pribadi anaknya tersebut dengan baik dan benar. Kesungguhan orang tua dalam memberikan peran sebagai wujud tanggungjawab keluarga atas perkembangan anak maka menjadikan anaknya dengan mudah menjadi orang yang sukses. Masa depan anak harusnya sudah di terapkan oleh orang tua melalui kesiapan anak dalam memikul bagian peran tanggungjawab kepada anak dalam perbaikan karakter anak. Informasi yang sinergitas antara orang tua dan anak sangat menunjang proses pembelajaran anak kearah yang lebih dewasa. Kesadaran orangtua dalam mengemban Amanah dari Allah SWT menjadi investasi dunia akhirat bagi orang tua untuk berbagi aspek religiusitas kepada anak-anaknya agar dapat terus membina karakter moral/akhlak/rohani kepada anak untuk mengantisipasi anak dalam mengantarkannya kearah kedewasaan.
    
    














DAFTAR PUSTAKA

DRA. Desmita, M.S.I, 2009, Psikologi Perkembangan Perserta Didik, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya)
Hurlock, Elizabeth, 1980, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta : Erlangga). Hal 10
Kirom, Askhabul, 2017, Peran Guru dan Pesesrta Didik dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multikultural, (Pasuruan: Al Murobbi). Hal 73
Oemar, Hamalik, 2009, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Al Gensindo). Hal 33

Previous Post
Next Post

Nama saya annisa, saya dari jepara, saya mahasiswi di Unisnu jeparq

0 komentar: