Sabtu, 12 Juni 2021

Peran Keluarga Dalam Konsep Perkembangan Remaja FTIK UNISNU Jepara

Peran Keluarga Dalam Konsep Perkembangan Remaja FTIK UNISNU Jepara

 Peran Keluarga Dalam Konsep Perkembangan Remaja

Ahmad Bambang Khoirul Afif
191310004150


A.    Pendahuluan
Keluarga adalah suatu unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan, mulai dari anak bergantung kepada ibu, ayah kakak, abang maupun sebaliknya kesemuanya saling membutuhkan. Yusuf menyatakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, sehingga kedudukan keluarga dalam perkembangan psikologis anak sangatlah dominan(Andriyani, J. (2016). Korelasi peran keluarga terhadap penyesuaian diri remaja. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 22(2).)
bagaimana remaja membangun hubungan dan bagaimana hubungan mempengaruhi perkembangan kematangan social pengaruh social budaya dan historis terhadap keluarga, dan sifat dasar dari daur hidup keluarga.Para ahli prkembangan menyelidik sifat dasar dari sosialisasi timbalebalilq mereka terkesan dengan pentingnya kesesuaian dalam hubungan orangtua-anak dan orang tua-remaja. Sebagai suatu system sosial, keluarga sebagai subsistem menggambarkan hubungan antara generasi, jenis kelamin, dan peran. Masing-masing anggota keluarga adalah peserta di dalam beberapa subsystem seperti seperi dyadicyang terdiri atas dua orang dan polyadicyang terdiri atas lebih dari dua orang(minuchin, 2002).
     
B.    Pembahasan

 Perkembangan remaja meliputi perkembangan fisik, sosial, emosi, moral dan kepribadian (Sarwono, 2011).
a.Perkembangan fisik remaja.
Seperti pada semua usia, dalam perubahan fisik juga terdapat perbedaan individual. Perbedaan seks sangat jelas. Meskipun anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lambat daripada anak perempuan. Hal ini menyebabkan pada saat matang anak laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Setelah masa puber, kekuatan anak laki-laki melebihi kekuatan anak perempuan. Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cenderung mempunyai bahu yang lebih lebar dari pada anak yang matang lebih awal (Sarwono, 2011).
b.Perkembangansosial.
Salah satu tugas perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Sarwono, 2011).Pencapaiantujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin (Sarwono, 2011).

c.Perkembangan emosi.
Masaremaja ini biasa juga dinyatakan sebagai periode “badai dan tekanan”, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya perubahan emosi ini dikarenakan adanya tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru(Monks & Haditomo, 2004).
d.Perkembangan moral.
Pada perkembangan moral ini remaja telah dapat mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak (Sarwono, 2011). Pada tahap ini remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku khusus dimasa kanak-kanak dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya (Sarwono, 2011).
e.Perkembangan kepribadian
Pada masa remaja, anak laki-laki dan anak perempuan sudah menyadari sifat-sifat yang baik dan yang buruk, dan mereka menilai sifat-sifat ini sesuai dengan sifat teman-teman mereka. Mereka juga sadar akan peran kepribadian dalam hubungan-hubungan sosial dan oleh karenanya terdorong untuk memperbaiki kepribadian mereka (Sarwono, 2011).

banyak para orang tua yang melihatmereka berubah dari penurut menjadi tidak penurut dan melawan.Banyak ornag tua bermasalah dengan anak remaja mereka karena mereka mengharapkan anaknya menjadi dewsa dalam waktu singkat,padahal remaja tidak menjadi dewasa dalam waktu singkat. Orang tua yang tahu bahwa remaja membutuhkan waktu yang lama untuk menjadidewasa biasanya berhadapan dengan remaja yang lebih cakap dan tenang dibandingkan dengan orang tua yang menginginkan penyesuaian yang cepat terhadap standar orang tua.Orang tua dapat memaknai peran penting sebagai manajer dari anak remajanya, sebagai monitor hubungan sosial remaja dan sebagai penilai dalam pengatur sosial (Parker & Buriel, 1998,2006).
Tugas perkembangan yang penting dalam masa remaja adalah untuk mengembangkan kemampuan dalam membuat keputusan yang cakap untuk meningkatkan sikap mandiri (Mortimer & Laron, 2OOZ). Untuk membantu remaja meraih seluruh potensi mereka, peran orang tua yangpenting adalah untuk menjadi manajer yang efektif, seseorang yang mencari informasi membuat konta( membantu menyusun pilihan dan menyediakan bimbingan (Youniss & Ruth, 2002). Orang tua yang memenuhi peran manajer, membantu remaja untuk menghindari kesulitan dan memberikan mereka jalan untuk melalui pilihan dan keputusan yang sangat banyak yang mereka hadapi (Furstenberg & others, 19999).Dari bayi hingga remaja, ibu rebih disukai dari pada ayah untuk peran manajerial dalam pengasuhan.
Pandangan Diana Baumrind (L97L,1990, 1991a, 1991b) yang menyakini bahwa orang tua seharusnya tidak bersifat menghukum maupun menjauhi remaja, tapi sebaliknya membuat peraturan dan manyayangi mereka. Terdapat empat jenis cara menjadi orang tua yang berhubungan dengan aspek-aspekyang berbeda-beda dalam perilaku sosial remaja : autoria autoritatif,negleciful (lalai) dan indulgent (sangat sabar).




1. Pola Asuh AutoritarianAdalah pengasuhan yang membatasi dan bersifat menghukum yangmendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orang tua menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang autoritarian membuat batasan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit' komunikasi verbal. Remaja yang orang tuanya authoritarian sering kalimerasa cemas akan perbandingan sosial, tidak mampu memulai suatu kegiatan dan memiliki kemampuan komunikasi yang rendah.
2. Pola Asuh Autoritatif Pola asuh ini mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan pengendalian tindakan-tindakan mereka. Komunikasi verbal timbal balik dapat berlangsung dengan bebas dan orang tua bersifat sangat sosial remaja yang kompeten. Remaja yang orang tuanya bersifat autoritatif berkaitan akan sadar diri dan bertanggung jawab secara sosial.
3. Pola Asuh Neglectful (lalai) Adalah pola asuh diamana orang tua sangat tidak ikut campur dalam yangtidak cakap khususnya kurangnya pengendalian diri. Remaja sangat membutuhkan perhatian orang tua mereka.; remaja yang orang tuanya lalai mendapat kesan bahwa aspek lain dari kehidupan orang tuanya lebih penting dari pada dia. Remaja yang orang tuanya lalai biasanya tidak cakap; mereka menunjukkan pengendalian diri yang buruk dan tidak bisa menangani kebebasan degan baik yang berhubungan dekat dengan orangtua yang lalai adalah kurangnya monitor dari orang tua. Dalam studi baru-baru ini, monitor dari orang tua terhadap remaja terkait dengan niali-nilai yang Iebih tinggi, aktivitas seksual yang lebih rendah, dan rendahnyadepresi pada remaja.
4, Pola Asuh Indulgent Adalah pola asuh dimana orang tua sangat terlibat dengan remaja tapi sedikit sekali menuntut atau mengendalikan mereka. Orang tua yang indulgent mengizinkan remaja melakukan apa yang mereka inginkan dan akibatnya si remaja tidak pernah belajar mengendalikan perilaku mereka dan selalu berhadap mendapatkan semua keinginannya. Beberapa orangtua memperlakukan anaknya demikian, karena percaya bahwa keterlibatan yang hangat dengan sedikit batasan akan menghasilkan remaja yang kreatif dan percaya diri. Pola asuh indulgent berkaitan dengan ketidakcakapan social remaja, terutama kurangnya pengendalian diri.

Secara umum ditemukan bahwa pola asuh autoritatif berhubungan dengan aspek positif berkembang (Steinberg & Silk, 2002). Alasan-alasan pola asuhan utoritatif menjadi pola asuh yang paling efektif adalah :. Orang tua autoritatif mendirikan keseimbangan tetap antara control dan otonomi, memberikan anak dan remaja kesempatan untuk mengembangkankebebasan sekaligus menyediakan standar, batas, dan bimbingan dengan diperlukan anak (Reuter & Conger, 1995). Orang tua autoritatif lebih mengajak anak dalam komunikasi timbal balik dan mengizinkan anak untuk mengekspresikan pandangan mereka(Kuczynski & Loilis, 2002).  diskusi keluarga ini lebih membantu anak untuk menjadi orang yang kompeten secara sosial.
 Kehangatan dan keterlibatan orang tua yang disediakan oleh orang tua autoritatif membuat anak lebih menerima pengaruh orang tua (Sim, 2000)Banyak orang tua menggunakan kombinasi teknik-teknik dari pada satu tekniksaja, walaupun mungkin  telah dominan pada satu teknik. Walaupun dianjurkan penggunaan yang konsisten, orang tua yang

bijak dapat merasakan pentingnya menjadi lebih permisisif pada suatu situasi, lebih autoritatif pada situasi lain dan lebih autoritatif pada situasi lainnya.
Peran lbuApa yang kamu pikirkan ketika kamu mendengar kata ibu ? Jika kamu seperti kebanyakan orang maka kamu akan mengasosialisakan ibu dengan"positif", sepeti hangat, tidak mementingkan diri sendiri, dan toleran (Martin,1993). Dan ketika kebanyakan wanita mengharapkan menjadi seorang ibu akan bahagia, realitas menunjukkan bahwa ibu kurang mendapat penghargaan didalam masyarakat kita. Ketika ibu terjebak dalam masalah uang, kekuasaan,dan penghargaan ibu jarang menerima apresiasi yang mereka janjikan. Ketika anak remaja tidak sukses atau membuat masalah, masyarakat kita cenderung untuk mengatribusikan masalah-masalah itu kepada ibunya.Salah satu hal yang penting untuk dipelajari dari psikologi adalah tingkahlaku itu ditentukan oleh banyak hal, Begitu juga dengan perkembangan    remaja,ketika perkembangan itu tidak berjalan baik, ibu bukanlah sebab satu-satunya dari masalah itu meskipun masyarakat kita cenderung stereotype terhadapmereka.Realitas dari peran ibu saat ini adalah ketika sang ayah mencoba menaikkan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya, namun tanggung jawab utama anak-anak dan remaja tetap jatuh di dahu ibu (Barnard & Solchany, 20A2;Brooks & Bornstein, 1996).
Dalam satu kasus remaja berusia 9-12 tahun berkatabahwa ibu mereka lebih berpengaruh dalam pengasuhan di banding dengan ayah mereka (Sputa 7 Paulson, 1995).Peran ibu membawa keuntungan sekaligus kekurangan. Meskipun sebagian besar wanita tidak mau memilih untuk menjadi ibu sepanjang hidupnya, tetapi sebagian besar ibu mengatakan bahwa menjadi ibu merupakan salah satu pengalaman yang paling berarti dalam hidupnya.
Peran ayah mempunyai perubahan besar (Day 7 lamb, 2004; Lamb, t997;Parke, 2002, 2OO4; parker & others, 2002). Selama periode kolinial Amerika,ayah adalah pemegang tanggung jawab untuk mengajarkan moral. Ayah memberi arahan dan nilai, terutama tentang agama. Ketika revolusi Industri,peran ayah berubah. Ayah bertambah tanggungnya sebagat breadwinner, Wranyang diteuskan malalui depresi yang berat. Ketika perang dunia II berakhir,peran lain ayah diadakan Iagi, yaitu mengenai model gender. Walaupun menjadi biadwinner, dan pengarah moral terus menjadi peran ayah yang penting, atensi berpindah kepada perannya sebagai laki-laki terutama untuk para anak laki-laki.Di tahun 1970, minat ayah sebagai active, nurtunnt, dan peduli menjadi semakin penting. Selain bertanggung jawab terhadap disiplin dan control terhadap anak dan menjadi basis ekonomi keluarga, peran ayah sekarang menjadi evaluasi dalam konteks aktif , aktifitas ayah yang tinggi saat ini apakah berpengaruh terhadap anak-anakdan remajanya ? Suatu studi longitudinal pada remaja dari kelas 5 samapai kelas12, menemukan bahwa ayah hanya menghabiskan waktu yang sangat sedikit untuk anak dan remaja mereka (Larson & others, 1995). Dalam sebuah penelitian melahirkan rumusan bahwa ayah menghabiskan 1/3 sampai 3/+ waktu yang dia punya dengan anak dan remaja mereka, seperti yang ibu lakukan(Biller, 1993; Pleck, 1997 Yeung & others, 1996). Dalam sebuah penelitian ayah dari 1700 anak yang berusia sampai l2 tahun waktu yang mereka habiskan dengan anak mereka meningkat, dibandingkan dengan yang mereka lakukan di awal tahun 1990-an, tetapi masih kurang dengan apa yang ibu lakukan (Yeung &others, 1996). Meskipun beberapa ayah berkomitmen sebagai orang tua, namun yang Iainnya adalah orang asing bagi remaja mereka, meskipun mereka tinggal di rumah yang sama (Burton & Synder, t997; Day & AcocK 2004).Secara keseluruhan, meskipun peran ayah di U.s telah meningkat, tetapi waktu yang mereka habiskan untuk anak

mereka, masih lebih rendah dibandingkan ibu (Parke & Buriel, 2006). Perbedaan gender dalam mengasuh tidak hanya pada orang tua kulit putih namun juga untuk Iatin dan Afrika-Amerika. (yeung & others, 2001). Dan beberapa peneritian terah menemukan bahwa ayah didalam banyak Negara seperti Austraria, Inggris, perancis danJepang juga menghabiskan sedikit waktu untuk anak mereka di bandingkanibunya (Zuzanek, 2000).
 

C.    Simpulan
            Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk memperoleh otonomi(kebesan), baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya dengan orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk saling berinteraksi dengan dunianya yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nikai dan ide. Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dan pelajaran yang berasal dari orang tua. Aklbatnya remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan ide-ide mereka  sendiri
keluarga sebagai subsistem menggambarkan hubungan antara generasi, jenis kelamin, dan peran. Masing-masing anggota keluarga adalah peserta di dalam beberapa subsystem seperti seperi dyadicyang terdiri atas dua orang dan polyadicyang terdiri atas lebih dari dua  orang (minuchin, 2002). Bapak dan remaja merupakan subsistem dyadic atau hubungan antara ibu dan bapak; sedangkan ibu, bapak dan remaja merupakan subsistem polyadic atau hubungan antara ibu dan anak Iainnya. Hubungan perkawinan, orang tua, dan perilaku remaja dapat mempengaruhi satu sama tainbaik secara langsung maupun tidak tangsung.Perkembangan remaja Perkembangan remaja meliputi perkembangan fisik, sosial, emosi, moral dan kepribadian
Terdapat empat jenis cara menjadi orang tua yang berhubungan dengan aspek-aspek yang berbeda-beda dalam perilaku sosial remaja : autorian, autoritatif, negleciful (lalai) dan indulgent (sangat sabar).




 

Daftar Pustaka

Andriyani, J. (2016). Korelasi peran keluarga terhadap penyesuaian diri remaja. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 22(2).

Https: //www. Ibh-apik. or.id adopsi. htm
http:/www. Worldlii.orglidllegisluul2012luu-2002-O23.htlm, Kamis 15 Maret2007
LESTARI, E. G., Humaedi, S., SANTOSO, M. B., & Hasanah, D. (2017). Peran keluarga dalam menanggulangi kenakalan remaja. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2).

Mar'at Samsunuwijati, Prof.,Dr.,Hj, S. Psi, 2005. Psikologi PerkembanganBandung : PT Remaja Rosdakarya
Rejeki, S. A. (2008). Hubungan antara komunikasi interpersonal dalam keluarga dengan pemahaman moral pada remaja. Jurnal Psikologi.

Santrcck, John W, 2007, Adolescence Eleventh Edition. McGraw-Hill International

Hubungan Lingkungan Sekitar ( Keluarga) dan Perkembangan Psikosisal Peserta Didik FTIK UNISNU Jepara

Hubungan Lingkungan Sekitar ( Keluarga) dan Perkembangan Psikosisal Peserta Didik FTIK UNISNU Jepara

 Hubungan Lingkungan Sekitar ( Keluarga) dan Perkembangan Psikosisal Peserta Didik

Annisa Fadzliyah
191310004164

A.    PENDAHULUAN

         Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang memiliki peranan penting dan menjadi dasa     bagi perkembangan psikososial anak dalam konteks sosial yang lebih luas. Untuk itu, dalam memahami perkembangan psikososial peserta didik, perlu dipelajari bagaimana hubungan anak dengan keluarga.
        Karakteristik Hubungan Anak Usia Sekolah dengan Keluarga Masa usia sekolah dipandang sebagai masa untuk pertama kalinya anak memulai kehidupan sosial mereka yang sesungguhnya. Bersamaan dengan masuknya anak ke sekolah dasar, maka terjadilah perubahan hubungan anak dengan orangtua. Perubahan tersebut di antaranya disebabkan adanya peningkatan penggunaan waktu yang dilewati anak- anak bersama teman-teman sebayanya.
        Sekalipun tidak lagi menjadi subjek tunggal dalam pergaulan anak, orangtua tetap menjadi bagian penting dalam proses ini, karena mereka yang menjadi figur sentra dalam kehidupan anak. Untuk itu, orangtua harus menuntun anak untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas. Teladan perilaku yang baik (seperti disiplin dan bermoral) dapat mempertajam pemahaman anak terhadap tuntutan masyarakat yang dihadapinya kelak. Melalui proses ini, anak akan semakin memahami kebutuhan dan perasaannya, sekaligus kebutuhan dan perasaan orang lain.
           Hubungan orangtua dan anak akan berkembang dengan baik apabila kedua pihak saling memupuk keterbukaan. Berbicara dan mendengarkan merupakan hal yang sangat penting. Perkembangan yang dialami anak sama sekali bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan- kebiasaan di masa kecilnya. Hal ini justru akan membantu orangtua dalam menjaga terbukanya jalur komunikasi.
    
            Hakikat Perkembangan, Istilah "perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya:    pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.
            Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.”
            Menurut F.J. Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.” Perkembangan juga dapat diartikan sebagai “proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.”
            Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi di atas adalah bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.
            Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur- angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap. Berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian. Ini menjunjukkan bahwa sejak masa konsepsi sampai menionggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan.

B.    ISI / PEMBAHASAN


            Menurut teori Erik Erikson, anak adalah mahkluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif. Yang slalu berupaya untuk mengontorol lingkungannya dan anak bukanlah mahluk yang pasif yang mau begitu saja di bentuk oleh kedua orang tuanya. (Erikson, 1963,1972 dalam Shaffer, 1989 :48). Jadi, teori perkembangan ini psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi.
Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Ialah perasaan sadar yang kita kembangan melalui interaksi sosial. Menurutnya, perkembangan ego slalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori erikson disebutu sebagai teori perkembangan psikososial.
            Erikson membagi seluruh rentang kehidupan manusia dalam delapan tahap. Menurutnya, semua manusia paling tidak akan menghadapi delapan macam krisis atau konflik selama hidup mereka. Tetapi dalam pembahasan ini lebih menekankan 2 tahap saja yaitu, tahap 4 dan 5 karena seorang anak sudah mulai belajar mengenal tugas tugas perkembangannya selama di tahap itu. Mereka sudah mulai percaya diri bahwa ia akan berhasil. Lalu, anak akan mulai mempertanyakan “jati diri”nya. Anak akan mecari identitas dirinya. Setelah sudah menjalankan tugas-tugas perkembangan anak pada saat usia sebelumnya. 


a.    Tahap 4 (rasa berhasil vs rendah diri)


            Tahap ini merupakan usia 6-12 tahun (school age) ditingkat ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya. Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil melalui tuntutan tersebut. Anak dapat mengembangkan sikap rajin, jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (infieoritas), anak dapat mengembangkan sikap rendah diri. Sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangat penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia ini usaha yang sangat baik pada tahap ini adalah dengan mengembangkan kedua karakteristik yang ada. Dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.

b.    Tahap 5 (identitas dan penolakan vs terburainya identitas)


            Tahap ini merupakan tahap adolense (remaja), dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18 tahun/anak. Di dalam tahap ini lingkup lingkungan semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung dalam tahap ini. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Namun sebaliknya, jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut. Karena pada tahap ini, terjadi “puncak pencarian” identitas diri. Pertanyaan “siapa saya” yang timbul dalam diri remaja, sebetulnya berkaitan dengan peran yang di harapkan masyarakat terhadap remaja.
Keberhasilan remaja dalam memperoleh peran, dan keberhasilannya dalam melaksanakan tugas akan memberikan identitas tertentu bagi dirinya. Namun ada hal yang akan mengganggu perkembangan ini, jika ia tidak bisa melakukan pengembangan identitas diri ini, yaitu masalah Krisis Identitas adalah suatu keadaan dimana identitas dari individu/seseorang yang tidak jelas. Sasaran yang terjadi adalah pada anak remaja umur 14-15 tahun, dimana pada masa ini dipengaruhi oleh faktor hormonal yang biasa disebut masa gejolak/badai topan. Masa-masa ini masa anak ingin terlepas bebas dan masih ketergantungan. Apabila masa ini tidak diperhatikan maka anak akan melarikan diri ke peer group (teman sebaya). Pengaruh teman sebaya biasanya kenakalan remaja. Pada masa ini yang perlu ialah pengawasan atau nasehat orang tua. Karena itu, krisis identitas hanya dapat diatasi bila si remaja berhasil memperoleh peran yang sesuai dengan tuntutan dirinya dan selaras dengan harapan masyarakat.
            Identitas diri adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart dan Sundeen, 1991). Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, unik dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya (Keliat, 1992). Salah satu dasar persepsi seseorang terhadap kecukupan peran yang diterimanya adalah ego yang menyertai peran, berkembang sesuai dengan harga diri. Harga diri yang tinggi adalah hasil dari pemenuhan kebutuhan peran dan sejalan dengan ideal diri seseorang (Stuart dan Laraia, 2005).

    Solusi


        Menurut saya umur 6-18 tahun itu merupakan masa dimana anak mulai tumbuh dan berkembang dan di masa itu juga anak beranjak dewasa/remaja, jadi peran orang tua sangat penting pada masa itu,  orang tua membuat anak-anaknya peka terhadap kebutuhan orang lain sehingga meningkatkan kemampuannya untuk berempati (Nancy Eisenberg, 1982), kemudian didikan  orang tua (keluarga) membentuk tingkah laku atau tindakan anak, tidak hanya itu peran guru juga sangat penting karena guru memberikan bimbingan bantuan terhadap peserta didik untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga, serta masyarakat.





C.    SIMPULAN


    Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Jika Semua keluarga/orangtua memfokuskan perannya kepada perkembangan anak dapat memberikan dampak/keyakinan yang kuat dan besar terhadap perkembangan perilaku, sikap dan pribadi anaknya tersebut dengan baik dan benar. Kesungguhan orang tua dalam memberikan peran sebagai wujud tanggungjawab keluarga atas perkembangan anak maka menjadikan anaknya dengan mudah menjadi orang yang sukses. Masa depan anak harusnya sudah di terapkan oleh orang tua melalui kesiapan anak dalam memikul bagian peran tanggungjawab kepada anak dalam perbaikan karakter anak. Informasi yang sinergitas antara orang tua dan anak sangat menunjang proses pembelajaran anak kearah yang lebih dewasa. Kesadaran orangtua dalam mengemban Amanah dari Allah SWT menjadi investasi dunia akhirat bagi orang tua untuk berbagi aspek religiusitas kepada anak-anaknya agar dapat terus membina karakter moral/akhlak/rohani kepada anak untuk mengantisipasi anak dalam mengantarkannya kearah kedewasaan.
    
    














DAFTAR PUSTAKA

DRA. Desmita, M.S.I, 2009, Psikologi Perkembangan Perserta Didik, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya)
Hurlock, Elizabeth, 1980, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta : Erlangga). Hal 10
Kirom, Askhabul, 2017, Peran Guru dan Pesesrta Didik dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multikultural, (Pasuruan: Al Murobbi). Hal 73
Oemar, Hamalik, 2009, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung : Sinar Baru Al Gensindo). Hal 33